Agustus 03, 2011

Persaingan Dua Bidadari -part 4-






Dua hari telah berlalu tanpa ada hal yang terjadi. Dan tentunya itu membuat Maya tenang dan mulai melupakan semuanya.


Hari itu seperti biasa gadis mungil itu berangkat latihan. Dengan wajahnya yang begitu polos, dia berlari kecil menyusuri jalanan menuju ke tempat latihan.


Sebuah mobil menghampirinya...


Mobil Masumi Hayami, tentunya...


Gadis itu menghentikan langkahnya dan membungkukkan badannya sedikit untuk berlaku hormat pada direktur muda nan tampan tersebut.
Melihat sikap Maya yang begitu sopan, pria itu tersenyum bahagia. Dia merasa perlahan gadis itu mulai sopan padanya...


Karena Masumi tersenyum, Maya langsung cemberut. Dia merasa digoda dan diejek oleh pria itu.


Maya pun melengos saja melewati Masumi yang memberikan senyum manisnya di pagi itu.


"Mungilll...apa kau tidak menyapa pacarmu ini?" goda Masumi lagi.


Sambil mengejar kekasih dadakannya itu, Masumi terus saja memanggil nama Maya. Sementara sang supir dari mobilnya terus mengikuti mereka dengan laju yang sangat lambat.


Karena merasa tak suka diikuti oleh Masumi, Maya pun menghentikan langkahnya dan marah pada Masumi...


"Pak Masumi, apa anda tidak membiarkanku sendiri. Pergilah!" kata Maya sebal.


Mendengar ucapan gadis mungil-nya itu, Masumi pun tak bisa menerimanya...


"Aku tidak akan membiarkanmu sendiri mulai sekarang. Ingat itu!" ujar Masumi lagi.


Maya menajamkan tatapannya pada Masumi. Rupanya gadis mungil itu sungguh lupa dengan pernyataan mereka beberapa hari yang lalu.


"Pak Masumi, apa yang harus aku ingat?" tanya Maya dengan lugunya.


Masumi pun jadi bingung sendiri menjawabnya. Perasaan ragu muncul dalam benaknya. 


Apa? Apa dia lupa?
Bagaimana bisa?
Sementara aku sudah tak kuasa ingin menjalaninya...
Ya..Tuhan...kasihan sekali diriku...
Masumi...Masumi...


Masumi akhirnya berdiri tak bergeming memandangi Maya yang semakin jauh meninggalkannya...


"Kau belum mengerti Maya..." gumam Masumi sedih.


Pria itu masih berdiri sampai bayangan Maya menghilang dari pandangan matanya.
Mobil yang membawanya kembali dilajukan dengan kecepatan tinggi sampai tiba di parkiran gedung Daito.


Masumi langsung masuk ke ruangannya. Wajahnya terlihat kusut karena perjumpaannya bersama Maya pagi itu. Dia mencoba mengerti gadis itu...Mencoba mengerti...


*****

Maya baru saja tiba di tempat latihan...
Wajah cerianya langsung hilang ketika matanya menangkap sosok Koji. Maya memilih meninggalkan tempat latihan untuk menghirup udara segar di taman di sekitar situ.

Melihat Maya yang menghindarinya, Koji pun berusaha mengejar Maya. Dan itu tak luput dari perhatian Ayumi...

"Maya....tunggu....ada yang harus kita bicarakan..." ujar Koji sambil berlari mengejar Maya.

Merasa benci dengan semuanya, Maya pun akhirnya berlari menjauhi taman dan tempat latihan. Entah kemana kakinya melangkah, pokoknya gadis itu ingin menghindari Koji untuk sementara waktu.

Koji masih mengejarnya...

"Maya..." panggil Koji.

Maya terus berlari menjauh, hingga di persimpangan...

BRRRAAAAKKKK....!!!!

Sebuah mobil sedan menabrak gadis mungil itu!

Maya terpental...

Seketika itu juga darah segar langsung mengalir dari keningnya...

Koji masih berdiri kaku shock...

Tak berapa lama orang mulai berdatangan untuk memberi pertolongan dan melihat bagaimana keadaannya.
Koji tersadar dan langsung berlari menghampiri Maya. Dia mengangkat tubuh Maya dan memanggil namanya berulang-ulang.

"Maya...Maya...buka matamu, Maya....aku mohon...." teriak Koji cemas.

Namun mata Maya tetap terpejam hingga ambulan datang dan membawa mereka ke RS terdekat.

Koji begitu mengkhawatirkan Maya, sepanjang jalan dia terus menggenggam jemari mungil itu. Menciuminya sambil terisak menyebut nama Maya....

Setibanya di RS, perawat tampak sibuk mempersiapkan pemeriksaan pada Maya. Maya dimasukkan ke ruang Emergency. Koji ingin tetap bersamanya, namun perawat melarangnya...

"Maaf, sebaiknya anda menunggu di sini. Trimakasih" kata perawat itu.

BLLLAAAM!!

Pintu tertutup dan Koji masih berdiri memandanginya lunglai...
Tubuhnya seperti lemah tak berdaya. Kekuatannya hilang seketika melihat darah yang mengalir dari gadis yang dia cintai.

Maya...Maya...
Maafkan aku...
Itu karena kesalahanku...
Maya...

Tak lama berselang dari peristiwa itu, berita kecelakaan yang menimpa Maya tersebar luas. Begitupun sampai ke gedung Daito.


Sementara Masumi masih merenungi pertemuannya pagi itu dengan Maya. Dia tak habis pikir bagaimana bisa gadis mungil itu tidak menggubris pernyataan cintanya beberapa waktu lalu.


Tiba-tiba Mizuki masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Wajahnya pucat dan begitu tergesa.


"Ada apa Mizuki? Apa kau tidak punya etika?!" bentak Masumi kesal dan terkejut.


Mizuki menghela nafasnya sebelum mengatakan kejadian yang menimpa Maya...


"Pak....Maya....Maya....kecelakaan....." kata Mizuki terbata-bata.


Masumi berdiri kaku mendengar apa yang baru saja dikatakan Mizuki. Matanya semakin membulat terkejut bagaikan terkena sengat aliran listrik...


"APA KATAMU?!!!" suaranya begitu keras menggema. Masumi pucat....


Tapi dengan segera dia menyambar jasnya dan berlari keluar ruangan.
Mizuki mengikutinya dari belakang...


"Cepat siapkan mobil, dan kau ikut aku ke RS tempatnya Maya dibawa. Apa kau sudah dapat informasi?" tanya Masumi bertubi-tubi.


Wajah tampan itu benar-benar gelisah dan kalut setengah mati..


"Sudah pak, semua sudah siap" balas Mizuki meyakinkan.


Masumi pun meminta supir untuk melajukan mobil dengan segera. Tak berapa lama mereka tiba di parkiran mobil RS tempat Maya dirawat.


Masumi semakin gelisah, jantungnya berdetak lebih kencang, tak terasa keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhnya. Masumi panik...


Mungiil...
Di mana kau? Bagaimana keadaanmu...
Aku datang, bertahanlah...
Mungiiil...


Masumi dan Mizuki langsung menuju ruang emergency. Langkah keduanya terhenti ketika mendapati Koji sudah berada di sana...


Koji...
Ada apa ini?
Mengapa dia ada di sini?


Masumi menghampiri Koji, begitu pun Koji langsung menyambut nya dengan membungkuk hormat pada keduanya.


"Pak Masumi...nona Mizuki...." sapa Koji sopan.


Raut wajah nya sangat menyedihkan. Dengan meremas jemari tangannya, pemuda itu berjalan mondar-mandir tak beraturan. Sementara itu Masumi dan Mizuki berbicara dengan dokter dan perawat yang bertugas di sana.


"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Masumi cemas.


"Mohon untuk bersabar, rekan kami sedang menangani korban sebaik mungkin" balas sang dokter sopan.


Lalu dokter itu melanjutkan kegiatannya menuju ruangan lain. Sementara dari bagian piket...


"Maaf apa anda keluarga nona Maya Kitajima?" tanyanya pada Masumi.


Sontak Koji langsung menghampiri petugas piket tadi dan mengatakan bahwa dirinyalah yang menjadi keluarga Maya..


Dengan tatapan tajam Masumi memandangi Koji yang berlalu melintasinya begitu saja...


Anak ini!!!


Masumi mencoba mencegah Koji, namun tangannya ditarik oleh Mizuki...


"Sebaiknya anda tenang, pak Masumi. Ini bukan saatnya!" ujar Mizuki menenangkan.


Masumi menarik nafas nya dengan berat. Lalu Mizuki membawanya menjauh dari Koji. Dia tahu bahwa Koji dan Masumi adalah dua pria yang selalu mengejar cinta Maya. Dari pada terjadi gosip yang merugikan semua pihak, lebih baik dia menjadi penengah bagi keduanya.


*****

Tik...tik...tik...tik...
Detik demi detik terasa berat bagi Masumi...
Juga Koji...
Wajah-wajah pucat dan khawatir terpancar dari keduanya...

Langkah demi langkah...
Mereka mondar mandir mengelilingi ruangan emergency tersebut...

Hampir 65 menit berlalu...

Cekkkleeekk...

Pintu ruangan itu terbuka...
Ketiganya langsung menghambur menghampiri dokter dan dua orang perawat yang keluar dari ruangan tersebut...

"Bagaimana dok?" tanya Masumi tak sabar.

Dengan saling bertatapan ketiganya menghela nafas mereka tak sabar dan was-was mendengar penjelasan dari dokter tersebut...

"Kami berhasil menyelamatkannya...tapi...." ucapan dokter itu terhenti memandangi kedua pria yang ada di hadapannya.

"Tapi apa dok?" Masumi dan Koji serentak bertanya penasaran.

"Maaf, di antara kalian, siapa yang keluarganya? Aku harus..." kata dokter itu, terputus karena Masumi memotongnya...

"Saya adalah tunangannya, dok!" ucapnya mendahului Koji.

Bibir Koji melongo mendengar pengakuan Masumi. Dia melirik ke arah Mizuki. Dan Mizuki hanya mengangkat bahunya seolah tak mengerti apa-apa.

Koji terus memandangi punggung Masumi yang berlalu masuk ke ruangan bersama dokter tadi...

Pak Masumi...
Apa maksudnya berkata demikian...
Apa anda...
Anda memperhatikan Maya...
Karena dia adalah calon bidadari merah...

Atau jangan-jangan anda...
Anda mengaguminya?
Bahkan mungkin mencintainya...
Pak Masumi...apa benar begitu?

Pak Masumi...



***continue to -part 5-***


2 komentar:

  1. wuaaah mantabbs sista...
    mulai dech cerita tragisnya.
    lanjutkan secepat mungkin ya sista (maksa.com)

    BalasHapus
  2. Mulainya ceritanya kayanya rada light - just the way I like it.
    Eh taunya sekrg mulai deh angst-nya.
    Jgn bikin yg terlalu angsty ya mbak. Lg stress nih. Maunya baca yg light - romantic comedy gitu. :)
    But... pengen tau lanjutannya nih.
    -serendipity

    BalasHapus

Frens, pliz comment in here...